Raymond Sapoen, Kandidat Capres Suriname Keturunan Indonesia

Posted by
Raymond Sapoen (istimewa)

Raymond Sapoen (istimewa)

 

CYBERSULUTdaily.COM – Raymond Sapoen menjadi kandidat presiden Suriname yang akan bertarung dalam pemilu Mei mendatang. Dari gurat-gurat wajahnya, pria berumur 48 tahun tentu sangat jelas ciri khas etnis Jawa. Tak heran, sebab dia generasi kedua imigran asal Jawa yang awal abad 20 dikirim Kolonial Belanda menggarap perkebunan di Suriname.

Sapoen dan lima calon lain, akan melawan presiden petahana Desi Bouterse yang menguasai mayoritas parlemen. Dalam sambutan di hadapan konstituen, pria diduga memiliki leluhur asal Banyumas, Jawa Tengah, ini mengaku tidak takut bersaing.

“Apa anda semua siap untuk mengambil alih kekuasaan pada 26 Mei mendatang. Saya merasa terhormat mendapat kepercayaan ini. Kita mungkin pernah kalah di masa lalu, tapi kita terbukti bisa bersatu sampai sekarang,” ujar Sapoen.

Lalu siapa sebenarnya Sapoen? dan benarkah kandidat calon Suriname ini keturunan Banyumas Jawa Tengah?

Sapoen terhitung politikus kawakan di negara wilayah pantai utara Amerika Selatan ini. Dia mengawali karir sebagai pengacara, lantas bergabung sebentar ke Partai Demokrasi Nasional (NDP). Tak berapa lama kemudian, politikus Paul Somohardjo mengajaknya bergabung ke Partai Pendawa Lima, yang banyak mengincar suara pemilih Jawa. Belakangan Sapoen menjadi petinggi koalisi partai Jawa Pertjaja Luhur.

Berkat kendaraan politik tersebut, Sapoen akhirnya masuk ke pemerintahan Presiden Jules Wijdenbosch. Diawali sebagai penasehat hukum Departemen Perecanaan Pembangunan Suriname pada 1996, disusul menjadi Wakil Menteri Pendidikan tiga tahun berikutnya.

Di Departemen Pendidikan karirnya menanjak. Sampai akhirnya pada 2010 dia ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan saat koalisi besar yang diikuti Pertjaja Luhur menguasai parlemen. Walau Presiden Bouterse pecah kongsi dengan Pertjaja Luhur, Sapoen masih dipercaya di kabinet. Sejak 2012, dia adalah Menteri Perdagangan dan Perindustrian di Suriname.

Selain memperebutkan dukungan etnis Jawa yang banyak tinggal di Distrik Nickerie, Saramacca, Wanica, atau Commewijne, Sapoen juga mengandalkan dukungan etnis minoritas di Suriname lainnya. Semisal peranakan China atau warga kreol.

Raymond Sapoen (istimewa)

Raymond Sapoen (istimewa)

Adapun dari penelusuran situs Kluban.net (30/1) melalui arsip pengiriman tenaga kerja Jawa ke Suriname, kemungkinan besar kakek buyut Sapoen berasal dari Desa Kanding Banyumas. Sang kakek berangkat mengadu nasib ribuan kilometer jauhnya sebagai buruh perkebunan pada 1928.

Sekadar informasi, lebih dari 30 ribu penduduk Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dikirim ke Suriname. Kontinen pertama pekerja kontrak berangkat pada 1890. Tak sedikit dari orang-orang itu adalah korban perdagangan manusia atau biasa disebut werk. Ada juga yang diming-imingi gaji tinggi, tapi ternyata mereka nyaris diperbudak sesampainya di Suriname.

Saat ini, kurang lebih penduduk Suriname yang berdarah Jawa mencapai 500 ribu jiwa. Cukup banyak dari mereka aktif dalam politik atau menjadi sosok penting dalam perekonomian. Paul Somohardjo, mentor politik Sapoen, adalah satu-satunya warga etnis Jawa yang pernah mencapai posisi politik paling tinggi yakni Ketua Parlemen.

Kabar Raymond Sapoen yang menjadi kandidat calon presiden Suriname ternyata juga membuat gempar Desa Kanding Kecamatan Somagede Banyumas Jawa Tengah yang disebut-sebut sebagai tanah leluhur Raymond. Bahkan beberapa warga yang ditemui ditengah kegiatan kerja bakti di desa setempat terlihat senang dengan kabar tersebut.

“Kami ikut senang juga, karena bagaimana pun jika memang Raymond keturunan warga (Desa) Kanding, mudah-mudahan bisa membanggakan desa kami,” ujar Ketua RT 01/RW 01, Haryono, Senin (2/2).

Haryono mengaku kaget kali pertama mendengar adanya keturunan warga Desa Kanding di Suriname yang dikabarkan menjadi kandidat presiden negara tersebut. Haryono sendiri mengaku, sempat mencari kabar kebenarannya.

“Saya sempat berbicara dengan beberapa warga yang ada di sini, menelusuri kebenaran kabar tersebut,” ujarnya.

Dari penelusurannya ke beberapa warga, beberapa di antaranya memang masih memiliki hubungan famili dari buyut Sapoen.

“Kalau untuk mencari jejak keluarga Sapoen di sini memang agak sulit. Karena yang kami dengar pertalian saudaranya dari buyut, setelah itu ke Ibu Sadem yang merupakan ibu Sapoen yang dimaksud,” ucapnya.

Munculnya kabar keturunan warga Desa Kanding Kecamatan Somagede Banyumas Jawa Tengah menjadi kandidat presiden Suriname terkuak setelah Arie Grobbee menulis hasil penelusurannya di Desa Kanding, tentang asal leluhur Raymond Sapoen yang saat ini juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan di Suriname.

“Saya mulai menelusurinya dari data Belanda yang saya dapat. Setelah berkunjung ke sana (Kanding), saya menemukan beberapa warga yang memang mengenal Sapoen. Dan setelah saya cocokkan beberapa ciri fisik, ciri Sapoen sesuai dengan seorang warga setempat yang bernama Parsono dan dari penelusuran silsilah keluarga memang masih ada hubungan dengan Sapoen yang memiliki ibu bernama Sadem,” ucapnya saat dihubungi.

Hingga saat ini, Arie yang aktif dalam sebuah perkumpulan warga Jawa-Belanda ini mengaku masih mencoba menelusuri lebih dalam lagi. “Saya ingin agar bisa menyambung tali silaturahmi antara warga Jawa yang berada di Suriname dengan yang masih tersisa di sini. Karena telah lama mereka terputus dengan tanah leluhurnya,” ucapnya.(mc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*