Penyebab Banjir di Manado

Posted by
Banjir di Kanaan, Ranotana Weru

Banjir di Kanaan, Ranotana Weru

CYBERSULUTdaily.COM – Banjir, adalah kata yang definisinya sangat sederhana dan mudah dimengerti. Airnya kabur dan kalau besar bisa membahayakan. Meski berbahaya dan kerusakan yang diakibatkannya dapat dihindari, namun bagi sebagian orang, terutama yang bermukim di bantaran sungai sering menjadi korban. Biaya murah, dekat tempat kerja, dan ketidakmampuan ekonomi selalu menjadi alasan klasik tidak mau menghindar dan dihindarkan sebelum terjadinya bencana.

Peristiwa banjir besar sudah ada sejak zaman lampau, dan telah menghancurkan kehidupan manusia; kala itu hanya menyisakan 8 orang dan sejumlah binatang; itulah kisah air bah pada zaman Nuh yang telah menghancurkan peradaban.

Bencana banjir bandang yang melanda kota Manado tanggal 15 Januari 2014 miliki cerita yang menyedihkan dan memilukan. Sesuai data tanggal 27 Januari 2014 terdapat 6 orang meninggal, 742 rumah hanyut, 4789 rumah rusak ringan, 1966 rumah rusak sedang, 3688 rumah rusak berat akibat banjir; 10 rumah rusak ringan, 5 rusak sedang dan 8 rumah rusak berat akibat longsor; 86348 jiwa dan 25101 KK terdampak bencana banjir; 110 jiwa dan 20 KK tertimpa tanah longsor; 477 bayi dan lansia menjadi korban banjir dan longsor; 277 sekolah, 29 Gereja, 27 Masjid dan 4 Klenteng mengalami kerusakan akibat banjir, dan 1 buah Gereja tertimpa longsor ; dan harta benda lainnya yang hilang terbawa banjir; semuanya adalah peristiwa yang mecurahkan banyak air mata, menyedihkan dan memilukan.

Meningkatkan kepedulian dengan cara membantu dan menolong para korban lebih dikenang ketimbang mencaci maki, menghujat dan menyalahkan. Bencana banjir bandang yang terjadi bukan suatu tindakan penghukuman ilahi atau karena kelalaian, kealpaan dan kesalahan para pemimpin sebagaimana yang dituduhkan oleh para pemilik kebenaran, tetapi karena fenomena alam yang diakibatkan oleh penghuni jagad raya ini, termasuk oleh para pemilik kebenaran.

Datangnya banjir bandang di kota Manado tanggal 15 Januari 2014 di luar kemampuan manusia, dan tidak seorang pun yang menginginkan terjadi. Kombinasi antara faktor alam dan antropogenik (pencemaran udara akibat kegiatan manusia) merupakan salah satu pemicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor .

Letusan gunung berapi, kebakaran hutan, dekomposisi biotik, debu, spora tumbuhan, adalah pencemar udara yang bersifat alamiah. Proses pembakaran berbagai jenis bahan bakar alat transportasi, terutama di daerah yang padat kendaraan bermotor; asap industri; persampahan baik akibat dekomposisi (pembusukan) maupun pembakaran, adalah pencemar udara antropogenik.

Pencemar udara yang alamiah maupun antopogenik merupakan penyebab terjadinya anomali cuaca, yaitu kondisi cuaca yang menyimpang dari keseragaman sifat fisiknya.

Menurut Andi Eka Sakya, kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat, banjir bandang yang terjadi di Sulawesi Utara, khususnya di kota Manado adalah akibat anomali cuaca. “Biasanya tekanan udara rendah (siklon) terjadi di belahan selatan, dan muncul pada bulan Mei, November dan Desember, kemudian menghilang; namun pada tahun 2014, siklon muncul di sebelah utara dan terjadi pada bulan Januari; ini yang dimaksud dengan anomali cuaca,” kata Andi Eka.

Masih menurut BMKG bahwa selain anomali cuaca, faktor yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di kota Manado adalah karena adanya pusaran tekanan udara rendah (depresi) di utara Filipina yang berpengaruh terhadap daerah sekitarnya. Pengaruhnya berupa intensitas hujan yang sangat tinggi di Indonesia, termasuk di kota Manado, Sulawesi Utara.

Dijelaskan oleh BMKG bahwa hujan ekstrim di Sulawesi Utara, termasuk kota Manado terjadi karena adanya pertemuan angin (konvergensi) yang membentuk awan penghasil hujan ekstrim. Hujan ekstrim merupakan salah satu fenomena alam yang sering menimbulkan dampak negatif pada berbagai sektor. Kini intensitas dan polanya, yang biasanya bergeser dari barat ke timur telah mengalami perubahan sebagai akibat perubahan iklim (climate change). Dulu datangnya musim hujan dan kemarau dapat diprediksi bahkan dapat dipastikan, kini prediksinya selalu meleset; penyebabnya karena anomali cuaca yang dipicu oleh faktor alam dan antropogenik. *** Penulis : Soleman Montori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>