Max Siso : Pidato Soekarno Harus jadi Naskah Akademik Pancasila

Posted by

Manado, CYBERSULUTdaily.COM – Peringatan hari lahirnya Pancasila yang telah ditetapkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 1 Juni, memiliki makna dan pandangan tersendiri dari praktisi politik Sulawesi Utara, Max Siso.

Max Siso

Max Siso

Menurut Siso, momentum evoria 1 Juni yang sudah ditetapkan sebagai hari lahirnya Pancasila harus ditindaklanjuti dengan peninjauan kembali Tap MPR No 25 Tahun 1966. Selain itu, pidato Soekarno harus dijadikan rujukan naskah akademik dalam pembahasan Pancasila dan pendalamannya.

“Ini mencegah terjadinya tafsir yang beragam-ragam, yang membuat konstruksi ketatanegaraan Indonesia bergeser menjadi lain. Contohnya, fraksi utusan daerah masih mencari bentuk hingga saat ini. Padahal didalam konstruksi negara yang dibangun atas dasar Pancasila, utusan daerah itu perwakilan dari netif yang suatu ketika akan terjadi gerakan septarianis yang sangat kental. Kalau muncul gerakan Septarianis pastinya tidak dapat dihindari munculnya gerakan sparatif,” ungkap Siso.

Dijelaskan Siso, TAP MPR Nomor 25 Tahun 1966 harus ditinjau kembali karena Pancasila itu dianggap lahir dari Soekarno dan dianggap Marhaenis tapi dilarang menurut TAP MPR tersebut.

“Begitu juga dengan semangat pidato Bung Karno pada 1 Juni, harus Jadi rujukan naskah akademik Pancasila dalam pendalamannya. Sebab jika masing-masing orang menafsirkan dengan caranya maka akan bias. Akibat pancasila hingga saat ini tidak ada naskah akademik tentang itu, maka terjadi perbedaan interpretasi soal Pancasila dan itu pun mempengaruhi konstruksi hukum kehidupan kita bernegara telah bergeser dari konsensus nasional,” terang Siso.

“Oleh karena itu mengembalikan semangat Pancasila itu pada keasliannya dalam konteks untuk menumbuhkan rasa nyaman, mengembalikan semangat kita bernegara dalam sebuah Bhineka Tunggal Ika. Kita satu dalam cita-cita, satu dalam semangat dan pengharapan serta satu dalam senasib dan sebangsa,” pungkas Tokoh Revolusioner Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan di Sulut ini.

 

 

 

Penulis : Christy Lompoliuw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*