Keluhkan Masalah Pelayanan, Lombok Nilai RS Kandou Malalayang Tak Layak Tipe A

Posted by
Billy Lombok

Billy Lombok

Manado, CYBERSULUTdaily.COM – Pelayanan yang kurang memuaskan bahkan bisa diungkapkan mengecewakan, tidak hanya dialamai oleh masyarakat kalangan bawah yang selalu mengalami pelayanan kurang memuaskan dari pihak Rumah Sakit (RS) Umum Prof Kandou Malalayang. Ungkapan mengecewakan juga dialami oleh Billy Lombok personil Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut.

Pelayanan yang kurang memuaskan bahkan bisa dikatakan mengecewakan ini, dialami Lombok saat membawa ibunda tercinta yang membutuhkan pertolongan medis di RS Prof Kandou Malalayang.

Berikut cerita Lombok yang diungkapkan di media sosial tembusan ke Gubernur dan Wakil Gubernur serta pimpinan DPRD Sulut, Kamis (29/9/2016) :

Tiap kata yang tertulis merupakan pengalaman menyedihkan, menulis ini berarti mengembalikan ingatan pengobatan di RS prof Kandou yang tak layak menyandang RS tipe A.

Berawal dari kedatangan kami membawa ibu kami di bangunan IGD RS Prof Kandou, dengan keluhan sesak nafas, dikarenakan dirumah tidak memiliki oksigen maka bergegas kami membawa beliau ke RS ini. Masuk kami, kemudian di teruskan ke bilik ruangan yang terdiri atas beberapa kamar. Kondisi mami saat itu bisa jalan, bisa naik kursi roda yang perlu dibantu bila naik tempat tidur saja.

Sedemikian lama dalam ruangan itu, suasana panas mulai mengganggu mami yang memang membawa kesan panas dikarenakan sakitnya. Kemudian mami bermohon berkali kali, berteriak berkali kali meminta dipindah ketempat lebih dingin.

Kami langsung menghubungi dokter, jawabnya tidak bisa karena harus di observasi dulu. Kami terpaksa ikuti, walau sekali lagi mami harus meraung raung bermohon dipindahkan, jawaban dokter tetap tidak dan tidak ada tindakan lain selain merencanakan penyuntikan steroid yang katanya untuk membantu pernafasan.

Tindakan ini pun tidak terlalu cepat di laksanakan, kami harus menunggu dan menunggu, mami semakin bermohon dipindah. Mami kemudian bermohon hal lain lagi, yakni mau ke toilet untuk buang ait kecil. Kami melapor lagi, dokter bilang pakai kateter atau pispot saja, karena wc jauh. My God, tidak diberikan atau ditawarkan kursi roda sebagaimana fasilitas mempermudah pasien seperti di RS umumnya.

Kami terus mempertanyakan lagi ke dokter tentang penanganan ini, betapa kaget kami menerima jawaban ini, “kalau di penang memangnya penanganan seperti apa ?,” mami memang sebelumnya di rawat di RS Gleneagles Penang.

Sabar menahan emosi, kami mencari jalan keluar sendiri dengan mencari toko untuk popok orang dewasa, walau kembali lagi memakan waktu dengan upaya kami sendiri akhirnya mami bisa buang air kecil.

Selanjutnya mami dibiarkan ditempat tidur untuk alasan observasi, yang walaupun kami tidak mengerti observasi apa yang akan dilaksanakan, tapi dengan optimis kami menunggu walau keluhan kepanasan tidak di hiraukan sama sekali dan mami terus meraung memohon pindah karena merasa panas tak tertahankan.

Infus pun terlihat darah dan tidak berjalan, kami lapor dokter lagi dan dijawab “oh iya lupa tadi”, kemudian infus kembali berjalan, wah bisa lupa ya.

Kembali lagi infus terlihat darah lebih banyak, lapor ke dokter, jawabannya “iya silahkan ke perawat saja”, sebenarnya saya sudah mulai emosi tapi saya tahan.

Akhirnya mami dibawa keluar dari ruangan itu untuk rontgen, kami sebenarnya sudah bersyukur karena ruangan rontgen jauh lebih dingin, keluhan panas mulai mereda, dan kondisi mami menjadi jauh lebih stabil karena sudah mulai dingin.

Tapi sepertinya keadaan ini tak lama karena rontgen hanya beberapa menit saja. Kami mulai kecewa menuju ruangan tadi lagi mami mulai kepanasan, mami akhirnya meminta di kursi roda saja dan duduk di lorong. Kami kaget, perawat laki2 mengatakan “oma kalo di kursi roda tidak ada oksigen”, padahal oksigen portable sebenarnya ada.

Benar saja, pilihan menggunakan kursi roda dan kemudian perawat itu membawa kembali oksigen portable, praktis mami tanpa oksigen di lorong itu. Gila saja masa RS tipe A hanya punya 1 oksigen portable dan harus menarik oksigen itu dari pasien.

Akhirnya mami menyerah, “biar jo dang ke tempat tidur jo”, walau mami tahu konsekuensi merasa lebih panas.

Sekian lama tidak ada tindakan, yang dikatakan observasi tidak jelas maknanya. Saya kemudian periksa kakinya mulai biru, disini baru dokter bertindak memindahkan mami, tapi sudah dengan dokter interna yang berbeda.

Pemeriksaan darah pun baru dilakukan, anehnya botol darah kemudian di serahkan kepada saya, dan minta bawa sendiri ke laboratorium. Kaget tapi menahan diri, saya bawa sampel darah ke laboratorium, disana disuruh taruh saja di meja nanti balik jam 6.30 pagi.

Sekali lagi RS TIPE A dengan standar tidak jelas, pasien/keluarga harus berusaha sendiri kesana kemari. Seorang dokter yang sudah bolak balik dengan pertanyaan yang sama yakni, kawin kapan, terakhir mens kapan, kenapa kembung, dan berulang kali kami menjawab sudah tertulis di penjelasan dari RS gleneagles penang.

Saya pun akhirnya bertanya nah hasil observasi kemudian mau tindakan apa ? Jawabannya seperti petir disiang bolong, sudah tidak ada ini sudah stadium lanjut.

Kenapa tidak ada kami menunggu observasi, kami bahkan hampir tak sanggup membiarkan mami berteriak kepanasan, kalau tahu begini kenapa tak biarkan kami membawa mami di tempat yang AC dingin membuat mami jauh lebih nyaman sebagaimana sebelumnya dirumah yang bisa jalan sendiri.

Sesak napas ditambah panas ternyata mendorong mami kolaps, terengah engah, dan akhirnya tak dapat berinteraksi lagi. kami menyadari perjalanan sakit mami dengan stadium lanjut mungkin dengan usia yang tidak panjang.

Pengalaman yang saya tuliskan diatas dapat menggambarkan bagaimana tidak profesionalnya pelayanan medis, yang kemudian menghantarkan orang tua kami bersama sang Bapa di Sorga.

Sedih, sangat sedih, harapan kami tentu saja mami bisa bercakap untuk terakhir kalinya, tapi mami akhirnya begitu sibuk menekan sakitnya. Yang lebih stress lagi, keluarga tak mendapat kesempatan memberi kenyamanan maksimal sebagaimana permintaan mami.

Ada ungkapan, Tuhan sudah menentukan nasib, tapi jangan sampai penentuan nasib oleh Tuhan karena justru di dorong oleh dorongan manusia.

Belum lagi dengan setoran yang tak jelas di bagian registrasi, variatif ada yang Rp 8000-15.000, tak ada kuitansi/pembukuan, tak dijelaskan dasar hukumnya.

Tembusan :

Yth : gubernur sulawesi utara, pimpinan DPRD Sulawesi utara

 

 

 

Editor : Christy Lompoliuw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*