Ini Kata Franky Wurara, Keluarga Pasien Korban Pungli Dokter Adrian Tangkilisan

Posted by

Manado, CS Daily.com – Terkait hearing (dengar-pendapat) yang dilaksanakan Komisi IV DPRD Sulut dengan pihak RSUP Kandou Malalayang, Senin (30/09) atas dugaan pungutan yang dilakukan oleh oknum dokter, Adrian Tangkilisan, Komisi IV ikut mengundang dan meminta keterangan pihak keluarga Femmy Kaligis yang menjadi korban pungutan, dalam hal ini diwakili anak mantu dari Femmy Kaligis, Franky Wurara.

Berdasarkan pantauan CS daily, Franky Wurara sebelum membeberkan keterangan yang dialami oleh keluarganya mengatakan kalau apa yang dikatakannya nanti sesuai dengan kenyataan dan tidak bermaksud memfitnah okunm tertentu.

Franky Wurara

Franky Wurara

“Apa yang saya katakan nanti sesuai apa yang saya ingat, saya tidak bermaksud untuk menyalahkan siapapun, tapi saya dituntut untuk menceritakan sebenarnya. Kalau ini dipermasalahkan, saya siap pertanggung jawabkannya secara hukum,” ujar Franky di hadapan Komisi IV DPRD Sulut.

Franky pun mulai mengukapkan kronologis awal dugaan pungutan oknum dokter terhadap pasien Jamkesmas dalam hal ini ibu mertuanya, Femmy Kaligis.

“Tanggal 15 Juli, dari RS Noongan Ibu mertua saya dirujuk ke RS Kandou. Awalnya kami datang belum terdaftar sebagai peserta Jamkesmas, nanti sekitar empat hari diruangan C barulah terdaftar sebagai peserta Jamkesmas dan itupun berkat masukan dari kerabat untuk mengurusnya. Maklumlah kami masyarakat awam yang tidak tahu adanya serta cara kepengurusan program Jamkesmas.
Ada sekitar 2 minggu dirawat di ruang C barulah keluarga bertemu dengan dokter Adrian Tangkilisan. Dalam pertemuan tersebut dokter Adrian menunjukan laporan pemeriksaan dimana kami baca ada tertulis Tumor, dan sebagai masyarakat awam kami menganggap kalau penyakit tersebut sangatlah berbahaya. Keluarga pun disarankan dokter Adrian untuk melakukan operasi, sebab menurutnya kalau hanya perawatan dengan obat tidak akan sembuh total,” ujar Franky mengawali ceritanya.

Lanjut dikatakan Franky, merasa kemampuan ekonomi keluarganya tidaklah kuat, mereka memberanikan diri untuk menanyakan besaran biaya operasi kepada dokter Adrian. Dokter Adrian pun dikatakan Franky langsung menanyakan pasien ditanggung melalui jaminan apa, dan dijawab kalau ibu mertuanya ditanggung lewat Jamkesmas.

“Saat kami bertanya biayanya, dokter Adrian mengatakan kalau untuk pasien umum biayanya 50 juta. Tapi jika ada tanggungan Jamkesmas harus disediakan kurang lebih 20 juta, mengingat ini merupakan operasi besar. Kami pun sempat mengeluh dengan ketidakmampuan kami atas biaya yang sebesar itu. Mendengar keluhan kami dokter Adrian lalu bertanya berapa kemampuan kami dan ditawarkan untuk menyediakan cukup 15 juta saja,” ungkap Franky yang pada pembicaraan tersebut mengaku tidak menemui hasil.

Lebih jauh dikatakan Franky, dirinya mencoba mencari jalan keluar lain dengan meminta bantuan kepada kakaknya. Pada saat itu kakaknya mengatakan kalau mempunyai kenalan seorang dokter bernama Grace yang suaminya merupakan petinggi di RS Kandou Malalayang, dan akan menghubunginya untuk dimintakan bantuan.

“Setelah menghubungi dokter kenalan kakak saya, beberapa hari kemudian usaha tersebut tidak sia-sia. Dimana melalui Handphone Kepala ruangan C saya dihubungi oleh seseorang yang mengaku bernama Jemmy dari jajaran direksi RSUP Kandou. Dalam pembicaraan tersebut saya dimintakan keterangan soal penyakit dan jaminan yang tanggungan ibu mertua saya, serta ditanyakan apakah saya dimintakan sejumlah uang oleh oknum dokter Adrian. Saya pun mengatakan kalau dokter Adrian tidak meminta tapi menyuruh menyiapkan sejumlah uang, yang langsung direspon oleh pak Jemmy kalau keterangan tersebut akan segera dikonfirmasikan dengan dokter Adrian,” terang Franky, yang setelah pembicaraan tersebut langsung merasakan ada keringanan dan mencoba untuk bertahan.

Beberapa hari kemudian lanjut Franky, ibu mertuanya atas perintah asisten dokter disuruh pindah ke ruangan A dengan alasan untuk persiapan operasi. Saat berada diruangan dirinya mengakui sempat didatangi lagi oleh dokter Adrian, dan mempertanyakan kenapa masalah tersebut harus diketahui oleh direksi RSUP sambil menawarkan kembali biaya operasi diturunkan menjadi 10 juta tapi diluar anastesi. Merasa uang dari hasil penjualan rumah dan kintal sebesar 10 juta sudah tidak mencukupi lagi, maka pihak keluarga pun tidak dapat menyanggupi permintaan tersebut.

“Jujur saja, keluarga sudah sempat menjual rumah dan kintal seharga 10 juta. Tapi karena dipotong hutang yang ada diluar dan ditambah pengeluaran selam di RS, maka uang yang tersisa hanya sekitar 2 juta, otomatis kami tidak dapat menyanggupi permintaan dokter tersebut,” ujar Franky sembari menambahkan karena belum juga ada titik temu, dokter Adrian mengatakan akan segera menyurat ke direksi RSUP Kandou untuk membayar biaya operasi.

dr. Adrian Tangkilisan

dr. Adrian Tangkilisan

“Beginilah kalau sesuai prosedur, kami dokter punya jiwa sosial yang tinggi tapi juga kami tidak mau miskin. Kalau begitu kita akan mengajukan proses ke direksi, nantinya direksi yang akan membayar. Tapi proses ini akan lama dan harus bersabar, yah beginilah kalau Gubernur cuma duduk, Bupati pun duduk dan direksi cuma ngomong doang,” ujar Franky mengutip perkataan dokter ADrian waktu itu.

Masih dikatakan Franky, dalam jangka waktu 2 minggu keluarganya terus menunggu dan berharap, hingga dokter Adrian datang kembali dan memberikan angin segar kalau proses pengajuan ke direksi sudah diterima dan dalam waktu dekat akan segera dioperasi. Mendengar kabar tersebut, pihak keluaragnya merasa senang dan langsung menyiapkan persiapan berupa pendonor darah dan dari RS menyuruh pasien untuk puasa menjelang operasi.

“Setelah melakukan persiapan hingga puasa, menjelang hari operasi justru dokter Adrian tidak datang yang setelah dikroscek dengan alasan tidak ada ruangan ICU yang kosong. Akan tetapi setelah ada ruangan ICU yang kosong, kami didatangi oleh dokter Angel dan Paat lalu mengatakan alat untuk melakukan operasi tidak ada, dan harus dipesan dari Jakarta sebagaimana yang disuruh oleh dokter anastesi. Hingga pada hari terakhir sebelum masalah ini mencuat ke media, kami diharuskan menyiapkan alat operasi berupa selang yang dipesan dari Jakarta,” tandas Franky, sembari mengingatkan kembali kalau semua yang dikatakannya, tidak ada tujuan untuk menjatuhkan siapapun, tapi hanya menginginkan hak sebagai peserta Jamkesmas dan tidak ingin masalah ini terjadi ke pasien yang lain. (Christ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*