Ban Kapten AC Milan Yang Tak Bertuan

Posted by
Riccardo Montolivo

Riccardo Montolivo

Beberapa hari yang lalu AC Milan datang ke Juventus Stadium menantang sang penguasa Italia dengan bermodal ‘tim seadanya’ atau tim lapis kedua kalau ada yang tidak berkenan dengan kata-kata ‘tim seadanya’. Meremehkan Nyonya Tua? Tentu tidak, memang hanya itulah pemain yang dipunya Milan.

Hal lucu pun terjadi saat penunjukan Sulley Muntari menjadi kapten Milan di Grande Partita tersebut. Entah apa yang dipikirkan oleh Pippo Inzaghi saat memutuskan ex-Inter Milan ini sebagai kapten. Diluar logika berpikir manusia normal.

Performa Muntari di Milan musim ini ‘tidak istimewa’ (bahasa kasarnya: jelek), dan sifatnya sangat buruk, tidak terpuji, tapi entah kenapa ia masih saja dipercaya bermain dengan jersey merah hitam itu, bahkan dijadikan kapten oleh Pippo. Apa artinya ini semua? Milan sudah kehilangan sosok pemimpin semenjak era Montolivo didapuk sebagai kapten. Siapapun bisa memakai lambang kapten di lengan kiri tanpa tau beban apa yang ada dibaliknya.

Muntari seolah sejajar dengan Gianni Rivera, Franco Baresi dan Paolo Maldini. Padahal kenyatannya, sedikit pun ia tidak pantas disejajarkan dengan mereka, bahkan boleh dibilang bermimpi pun tak boleh Muntari menjadi kapten Milan, tidak pantas. Il Capitano Muntari bahkan menjadi pemain dengan performa terburuk di laga versus Juventus dengan lawakannya di gol kedua Juve, saat itu ia berdiri sejajar dengan Diego Lopez dan bola melewati celah diantara mereka, namun sang kapten dengan penuh wibawa mengangkat tangannya dan menganggap Bonucci ada di posisi Offside. Benar-benar bakat seorang komedian memang ada didalam diri Muntari.

Sifat Muntari sangat buruk sebagai pemain Milan, masihkah Anda ingat kala Muntari ‘membanting’ Jersey Milan di bench saat ia diganti pada pertandingan kontra Torino bulan lalu? Sebuah penghinaan terhadap Jersey kebanggaan fans Milan. Namun apa yang Milan lakukan padanya sekarang? Ia dijadikan kapten. Sungguh dua perlakuan yang sangat berbanding terbalik.

Musim ini sudah ada tujuh pemain yang memakai ban kapten Milan yaitu Montolivo, Abate, Alex, Bonera, Abbiati, Mexes dan MUNTARI. Ini berarti ada masalah yang benar-benar terjadi di tubuh I Rossoneri, sosok pemimpin. Sejak era Massimo Ambrosini (kapten setelah Maldini) Milan benar-benar tak tahu harus menunjuk siapa sebagai kapten. Dan Montolivo menjadi pilihan utama. Monty juga merupakan pemain yang kurang mempunyai aura kepemimpinan, selain sering dibekap cedera, ia juga adalah pemain yang kerap ceroboh diatas lapangan. Jika flashback ke ajang liga Champions, kapten Milan tersebut pernah melakukan hal tidak penting kala Milan bertemu Ajax. Menginjak seorang pemain yang posisinya sangat jauh dari pertahanan Milan dan mendapat kartu merah langsung. Sungguh tindakan yang benar-benar jauh dari yang harus ditampilkan seorang pemimpin.

Milan yang sekarang mungkin hanya mempunyai satu tujuan saat menunjuk seseorang sebagai kapten, yaitu senioritas. Namun hal tersebut tentunya tidak cukup menjadi modal seorang pemain didaulat sebagai kapten. Kapten adalah pemimpin di lapangan, kapten adalah seseorang yang bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di lapangan, kapten adalah orang yang mampu memotivasi pemain lain serta mampu memompa semangat. Kapten adalah seorang pemimpin.

Dalam memilih kapten AC Milan seharusnya memperhatikan kata-kata dari Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara tentang sosok pemimpin. Ia pernah berkata pemimpin itu harus mempunyai tiga kriteria yaitu: “Ing ngarso sung tulodo (didepan menjadi teladan), Ing madyo mangun karso (ditengah membangun semangat) dan Tut wuri handayani (dibelakang memberikan dorongan).” Inilah yang harus dicari oleh Milan, sosok yang mampu dijadikan panutan pemain lain, sosok yang mampu memberi semangat disaat para pemain drop, dan sosok yang mampu memberikan dukungan moril kepada siapapun pemain di klub tersebut.

Paolo Maldini

Paolo Maldini

Pemain terakhir setelah era Maldini cs yang punya semua kriteria tersebut adalah Thaigo Silva. Ia sempat didaulat menjadi kapten namun tak lama kemudian ia harus angkat koper setelah PSG menginginkan jasanya.

Makin kesini Milan semakin dipenuhi pemain gratisan dan pemain ‘buangan’, dan disinilah tantangan sesungguhnya dalam mencari pemimpin dimulai. Pemain pun silih berganti memakai Jersey merah hitam, dan entah berapa pemain yang benar-benar menghargai jersey tersebut. Dan PR Milan adalah mencari pemain mana yang benar-benar mau berjuang dengan lambang Milan di dada. Jika harus disebut satu nama, mungkin Keisuke Honda merupakan sosok pemain yang pantas menjadi kapten Milan nantinya. Ketika ia pertama kali bergabung ke Milan ia mau terus bekerja keras dari mulai mati-matian belajar bahas Italia, berusaha beradaptasi dengan baik dengan cuaca dan juga memainkan peran baru dengan baik diatas lapangan. Sosok yang cukup teladan sepertinya. Namun dua kriteria lainnya dari tiga kriteria pemimpin ala Ki Hajar Dewantara belum tentu ada didirinya, dan sekali lagi inilah PR Milan: mencari kapten.

Menjadi pemimpin memang tidak mudah, berhasil atau tidaknya suatu negara ditentukan oleh bagaimana pintarnya seorang pemimpin bekerja, sama halnya dengan sepakbola, kapten bisa menentukan segalanya yang terjadi diatas lapangan. 2×45 menit mungkin adalah waktu yang singkat, namun disitulah tugas kapten menjaga permainan tim, mental tim, serta semangat juang pemain, lain agar tidak mengecewakan para fans yang sudah menyempatkan membuang satu setengah jamnya untuk menyaksikan mereka beraksi.

Milan saat ini adalah klub yang punya banyak kenangan manis di masa lalu, tanpa ada prestasi di masa kini. Milan saat ini kehilangan kelasnya, kehilangan pemimpinnya, bahkan nyaris kehilangan jati dirinya. Jika sosok pemimpin diatas lapangan seperti Maldini dan Baresi sulit diciptakan Milan dalam beberapa tahun kedepan, bukan mustahil Milan akan terombang-ambing tanpa arah seperti sekarang dan hanya menjadi klub pengenang masa lalu.

Musim ini, sudah cukup Milan asal dalam memilih kapten dan catatan untuk Inzaghi, jangan sekali-kali memberikan Muntari ban kapten itu, masih ada pemain lain yang lebih pantas memakainya ketimbang seorang pemain yang melakukan banyak blunder saat bermain melawan Juventus. Menurut penulis pemain seperti Nigel De Jong, Diego Lopez atau bahkan Adil Rami punya kriteria lebih baik dari Muntari, dan tentunya lebih layak memakai ban kapten Milan. Patut ditunggu siapa yang akan memimpin Milan di Giornata 23 melawan Empoli karena Montolivo kabarnya masih belum bisa diturunkan. Jadi, jangan asal pilih (lagi) Pippo. ‪#‎SaveMilan‬

(Galeri Milanisti 1899)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*